Hakikat Belajar: Pengertian dan Ciri Belajar

Belajar adalah istilah yang sering diperdengarkan kepada kita. Meski demikian, ada hal-hal yang mendasar tentangnya. Mari pelajari hakikat belajar.
Reza Noprial Lubis

Belajar adalah suatu kegiatan yang dalam pelaksanaannya mengikutsertakan dua unsur, yaitu jiwa dan raga. Gerak raga yang dilakukan tentulah harus sejalan dengan proses jiwa untuk mendapatkan perubahan jiwa. Artinya, perubahan pada fisik seperti luka di kaki, memar, patah tangan, patah kaki, sengatan serangga itu bukanlah akibat dari belajar. Oleh sebab itu, belajar adalah kegiatan untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotor (Djamarah 2011, 13).

Hal ini sependapat dengan Dahar, yang mengatakan bahwa dalam belajar, yang terjadi adalah proses perubahan tingkah laku. Perubahan dalam bentuk fisik seperti bertambah tinggi, bertambah berat, tidak termasuk belajar. Sama juga halnya dengan bertambahnya kekuatan fisik, seperti kemampuan untuk mengangkat sesuatu, perubahan fisiologis dalam besar otot, atau efisiensi dari proses sirkulasi dan respirasi (Dahar 2011, 2).

Berkaitan dengan pendapat di atas, Sardiman mengatakan bahwa belajar senantiasa merupakan sebuah perubahan tingkah laku atau penampilan dengan kegiatan yang dirangkai seperti membaca, mengamati, mendengarkan, meniru, dan lain sebagainya. Akan lebih baik lagi bila subjek dari kegiatan belajar itu (dalam hal ini siswa) mengalami sendiri dan tidak semata-mata bersifat verbalistik (Sardiman 2011, 20) .

Sama halnya dengan Mardianto yang juga mengatakan bahwa balajar dapat didefenisikan sebagai usaha atau kegiatan yang dilakukan yang bertujuan untuk mengadakan sebuah perubahan tingkah laku sikap, ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya (Mardianto 2017, 45).

Aktivitas sehari-hari juga merupakan kegiatan belajar. Pada dasarnya, manusia, tidak dapat terhindari dari kegiatan belajar ini. Tidak ada ruang khusus bagi manusia untuk terhindar atau melepaskan diri dari kegiatan belajar. Hal ini juga membuat pengertian bahwa tidak ada batasan dalam usia, tempat, dan waktu bagi manusia untuk belajar. Karena, perubahan yang menuntut untuk aktivitas belajar itu juga tidak pernah berhenti (Aunurrahman 2012, 33).

Dari beberapa defenisi para ahli di atas, maka dapatlah diambil sebuah kesimpulan bahwa belajar merupakan sebuah kegiatan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja dalam upaya untuk melakukan sebuah proses perubahan tingkah laku manusia dari yang tidak tahu menjadi lebih tahu.

Ciri-Ciri Belajar

Bila belajar didefenisikan sebagai perubahan tingkah laku, maka belajar mengadung ciri-ciri sebagai berikut (Djamarah 2011, 15):

  1. Perubahan yang terjadi secara sadar
  2. Perubahan dalam belajar bersifat fungsional
  3. Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif
  4. Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara
  5. Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah
  6. Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku
  7. Belajar itu adalah perubahan. Maka ciri yang lahir dari kegiatan belajar itu semestinya mengedepankan perubahan, baik itu perubahan dalam jangka waktu yang singkat, maupun perubahan yang membutuhkan waktu lama. Keseluruhan perubahan itu merupakan ciri dari kegiatan belajar.

    Terdapat tiga fase yang dapat dikaitkan dengan ciri belajar, yaitu informai, trnsformasi dan evaluasi. Ketiga hal ini menjadi bagian yang tidak dapat ditinggalkan dalam belajar dan dapat dikatakan sebagai ciri dari belajar. Penjelasan ketiga bagian ini, akan dijelaskan di bawah ini (Nasution, 2013, hal. 9-10):

    1. Informasi
      Dalam kegiatan belajar, kita mendapatkan sejumlah informasi. Adapun informasi yang didapatkan itu bisa saja informasi yang belum kita ketahui, atau informasi yang telah kita dapat sebelumnya, ada yang memperhalus atau memperdalam, ada pula informasi yang bertentangan dengan apa yang kita ketahui sebelumnya.
    2. Transformasi
      Informasi yang ada harus ditransformasi kedalam bentuk yang lebih abstrak atau konseptual agar dapat digunakan untuk hal-hal yang lebih luas. Dalam ha ini, bantuan guru sangat dibutuhkan.
    3. Evaluasi
      Dengan evaluasi, kita dapat menilai sejauh mana pengetahuan yang kita miliki berdasarkan transformasi itu dapat dimanfaatkan untuk memahami gejala-gejala lain.
    Fase-belajar

    Dalam kegiatan belajar, tiga fase ini akan terlihat. Yang perlu diperhatikan adalah seberapa banyak informasi yang dibutuhkan dalam sebuah kegiatan belajar. Lama waktu tiap-tiap fasi bergantung dengan berbagai hal, misalnya saja dengan motivasi peserta didik, minat, keinginan, dan dorongan untuk mengetahui sesuatu.

Reza Noprial Lubis
Seorang praktisi pendidikan yang gemar menulis. Halaman blog ini, didedikasikan untuk memberikan nilai edukasi kepada setiap pengunjung tentang pendidikan Islam.
Komentar