Saya KAGET Saat Mereview Naskah di Jurnal Terindeks Scopus: Ada AI-nya

Jika Anda berpikir AI hanya sebatas chat, pengalaman saya berkata lain. AI sudah dapat dijadikan asisten dalam mereview naskah. Lihat pengalaman saya.

Kita semua tahu tentang perkembangan AI, yang belakangan ini sangat populer. Bahkan dalam naskah ilmiah, itu tidak dilarang.

...dan Scopus bahkan mendukungnya:

Penulisan Naskah dengan AI di Elsevier

Aturannya: Klarifikasi yang jelas tentang alat apa yang digunakan, bagian mana saja, dan detail klarifikasi lain yang dibutuhkan:

Gunakan AI di Scopus Elsevier

Iya... Teknologi AI benar-benar dapat diandalkan saat ini. Tetapi, Saya kaget saat melihat sebuah Jurnal yang mengadopsi Teknologi AI.

...dan jujur saja. Ini adalah PERADABAN BARU yang saya lihat dalam ekosistem publikasi ilmiah, dimana jurnal sudah menggunakan teknologi AI didalamnya.

Jika Anda ingin tahu, apa yang saya temukan dalam Jurnal Internasional Bereputasi itu, mari kita teruskan.

Menerima Pesan Permintaan Review

Jadi, pada 7 April 2026 (pukul 01.32 waktu Indonesia), saya menerima pesan email yang meminta saya untuk melakukan peninjauan sejawat (review) terhadap naskah yang dikirimkan pada jurnal terindeks Scopus.

Yaa.... Jurnal Frontiers in Education terindeks di Scopus Q1 (Quartile Scopus), dari penerbit Frontiers Media di Swiss.

Quartile Scopu

Ini adalah peninjauan pertama saya, sejak bergabung disana:

Email Permintaan Review di Scopus

Tidak menunggu waktu lama, beberapa hari berikutnya saya langsung melakukan review terhadap naskah itu. Saya ingin tahu, bagaimana naskah mereka, hasil risetnya, metodologi yang digunakan, dan detai lainnya.

Banyak hal mengejutkan yang berbeda dari jurnal lokal kita. Mari teruskan membaca.

Mulai Melakukan Review

Pagi hari setelah menerima pesan email itu, saya menyetujui dan beberapa hari berikutnya mulai membuka naskah dan melakukan review.

Ada banyak hal teknis yang berbeda, dari kebiasaan dalam jurnal lokal kita.

1. 58ribu+ Jurnal Dunia Menggunakan OJS, Tapi Tidak Untuk Mereka

Saya setuju, JURNAL DUNIA menggunakan OJS (Open Journal Systems), salah satu software untuk pengelola Jurnal Ilmiah dengan Open Source, yang dikembangkan oleh Public Knowledge Project yang rilis pada tahun 2001.

Faktanya: Tahun 2025 silam, 58,221 jurnal aktif di dunia dibangun menggunakan OJS. (lihat Statistik dari RPubs)

Mapping Global Jurnal menggunakan OJS

Sepanjang berada dalam ekosistem publikasi ilmiah ini, banyak jurnal lokal kita yang mengedepankan OJS sebagai alat untuk pengelolaan Jurnal.

...dan Anda harus tahu, apa yang mengejutkan selanjutnya:

Statistik Negara Pengguna Jurnal Dunia

Sebanyak 43.68% darinya, diisi oleh Jurnal dari Indonesia. Ini hampir separuh dari Jurnal dunia. FANTASTIS...!!

Saya senang menjadi salah satu darinya, dengan membangun Jurnal Tarbiyah, yang terus berkembang.

Tetapi berbeda dengan Jurnal dimana saya sedang melakukan review, Frontiers in Education.

Tidak ingin klaim apapun: Saat coba menemukan tentang Software yang digunakan mereka, bahkan Saya tidak menemukannya. Tidak ada identitas, tidak ada detail tentang Alat, versi, dan informasi apapun tentang software yang mereka gunakan.

Hanya berasumsi: Mereka mungkin mengembangkan alatnya sendiri, untuk lebih fleksibel.

Itu membuatnya menarik. Desain yang informatif, ramah pengguna, dan tentunya memiliki khas tersendiri:

Dashboard Reviewer Jurnal Frontiers in Education

Beberapa temuan penting:

  • Timeline yang jelas;
  • Detail naskah yang informatif;
  • Tenggat waktu yang terbaca;
  • Pengajuan perpanjangan;
  • dan masih banyak lagi.

Semua yang dibutuhkan dalam proses review, berada dalam 1 halaman yang langsung dapat di-klik. Tidak perlu berpindah ke halaman lain.

...dan seperti yang Anda lihat: Fitur Request Extention tersedia disana.

2. Fitur Permintaan Perpanjangan Review

Sorotan saya: Reviewer dapat meminta perpanjangan waktu, bila dibutuhkan. Salah satu fitur yang belum pernah saya temukan ditempat lain.

Editor menyediakan waktu selama proses review, tetapi reviewer dapat mengajukan perpanjangan.

Fitur ini benar-benar berguna dalam ekosistem publikasi ilmiah, dan berharap OJS dapat mengembangkan alatnya dengan fitur canggih semacam ini.

3. Mereview Langsung Naskah PDF

Kebiasaan lokal kita, file yang diberikan adalah file Word, dan reviewer memberikan komentar terhadap bagian yang diperlukan.

Tidak tahu pasti mengapa mereka memutuskan menggunakan file PDF untuk reviewer. Mungkin untuk keamanan data, keamanan teks (konten), atau hal lain.

Tapi, lihatlah betapa repotnya, saat mem-blok tulisan yang ditandai, dan memberi rekomendasi: 😌

Komenar review di naskah pdf

...dan jujur saja, Saya sendiri lebih nyaman untuk melakukan review di dalam naskah word. Tetapi, ini bukan untuk dibandingkan.

Misalnya, saat saya melakukan review pada jurnal JSEL: Journal of Smart Education and Learning:

Komentar Reviewer di File Word

Memberikan komentar terhadap naskah di dalam file PDF, punya tantangan sendiri, dibandingkan dengan file Word, yang lebih mudah.

Tetapi, meski menambahkan komentar di PDF itu cukup merepotkan, itu tertutupi dengan fitur isian teks (field), dimana kita dapat memberikan komentar terhadap naskah dalam bentuk teks. Ini baik, tetapi membuat saya sebagai Reviewer harus bekerja lebih ekstra: 1) menyusun file PDF rekomendasi; dan 2) memberikan komentar dalam field.

Langkah yang membuat reviewer benar-benar bekerja dengan nyata. 😀

Teknologi AI di Ekosistem Jurnal Ilmiah

Yang paling menakjubkan adalah: AI diintegrasikan di laman Reviewer.

Ini adalah temuan saya yang pertama, sejak bergabung dalam Editorial di banyak jurnal ilmiah.

Integrasi AI di laman Reviewer

Seperti yang anda lihat, sebuah alat AI dihadirkan sebagai pembantu, termasuk dalam melakukan review.

Ini bukan sekedar hanya untuk TERLIHAT HEBAT. Bahkan mereka benar-benar siap. Alat yang berfungsi, Guidelines yang jelas, bahkan statistik (seberapa banyak naskah yang direview menggunakan AI mereka) juga tersedia disana.

Jadi, ini benar-benar membantu, terutama dalam proses review naskah.

Penutup

Kehadiran Ai tidak bisa dipungkiri lagi. Bahkan ia sudah muncul dalam ekosistem penerbitan jurnal ilmiah. Menariknya, jurnal internasional sudah mengedepankan teknologi ini.

Banyak orang bertaka: AI akan menggantikan peran banyak profesi.

Tetapi sampai saat ini, saya dapat katakan bahwa: AI sebagai alat bantu. Subjek tetap penanggung jawab.

Saya berharap, para pakar teknologi mulai mengadaptasikan AI untuk pengelolaan Jurnal ilmiah. Pengalaman ini, benar-benar membantu saya.

Jika Anda punya pertanyaan tentang pengalaman ini, jangan sungkan menuliskannya di kolom komentar.

Komentar