Pemateri Pembekalan PPL STAI UISU Pematangsiantar Tahun 2026

Kamis sore, 16 Juli 2026, jadwal saya lumayan padat. Bertempat di Aula STAI UISU Pematangsiantar, saya kebagian sesi kedua dalam rangkaian Pembekalan Mahasiswa PPL/PKL Tahun 2026, tepat pukul 16.30–17.50 WIB, setelah sesi pertama tentang penguatan karakter dan etika mahasiswa yang dibawakan Ketua STAI UISU sendiri, serta jeda istirahat sore.
Kali ini saya membawakan tema "Penguatan Pemahaman Regulasi Pendidikan Terkini dan Transformasi Pendidikan 2026 bagi Mahasiswa PPL", tema yang sebenarnya cukup berat kalau dibawakan secara kaku, tapi saya berusaha mengemasnya senyaman mungkin agar mahasiswa yang sudah duduk sejak siang tidak makin lelah mendengarkan.
Saya mulai sesi dengan mengajak mahasiswa mundur sedikit, memahami akar istilah pendidikan dalam khazanah Islam (tarbiyah, ta'lim, dan ta'dib) sebelum masuk ke pembahasan yang lebih kontekstual: peta regulasi pendidikan yang sedang berlaku hari ini. Ada beberapa regulasi baru yang menurut saya wajib diketahui calon guru sebelum mereka terjun ke sekolah, di antaranya Permendikdasmen No. 1 Tahun 2026 tentang Standar Proses Pendidikan, Permendikdasmen No. 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah yang Aman dan Nyaman, serta Permendikdasmen No. 12 Tahun 2026 mengenai Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah yang ramah anak. Tidak lupa saya singgung juga arah RUU Sistem Pendidikan Nasional yang masih dibahas di Komisi X DPR RI, karena cepat atau lambat ini akan memengaruhi wajah pendidikan yang akan mereka hadapi sebagai pendidik nantinya.
Bagian yang paling saya nikmati justru saat membahas Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) bukan kurikulum baru, melainkan pendekatan pedagogi yang lahir dari keprihatinan atas rendahnya literasi, numerasi, dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa kita. Saya ajak mahasiswa memahami tiga pilarnya: mindful learning, meaningful learning, dan joyful learning. Sederhananya, saya bilang ke mereka: "Nanti kalau sudah PPL, jangan cuma mikirin materi habis atau tidak, tapi pikirkan juga apakah anak-anak benar-benar paham dan senang belajar."
Menjelang akhir sesi, saya coba tarik semua pembahasan itu ke ranah yang paling dekat dengan mereka: apa implikasinya bagi mahasiswa PPL Prodi PAI dan PIAUD secara khusus. Mulai dari menyusun RPP berbasis pembelajaran mendalam (bukan sekadar hafalan materi agama), menciptakan kelas yang aman dan bebas kekerasan, sampai peka terhadap kebutuhan psikologis dan spiritual peserta didik, sesuatu yang menurut saya sering luput dari perhatian mahasiswa yang baru pertama kali mengajar.
Yang membuat sesi ini terasa lebih hangat, saya dipandu oleh Atikah Hairani Nasution, M.Pd sebagai moderator. Beliau bukan orang asing bagi saya. Kami adalah teman sejawat sesama dosen, jadi obrolan di panggung mengalir lebih santai dan cair, meski substansinya tetap terjaga. Ada semacam kenyamanan tersendiri saat menyampaikan materi dengan moderator yang sudah saling memahami cara berpikir dan gaya bicara masing-masing. Diskusi dengan mahasiswa pun jadi lebih hidup karena arahan beliau yang komunikatif.
Saya selalu percaya bahwa mahasiswa PPL tidak cukup dibekali kemampuan mengajar saja, tapi juga perlu "melek" regulasi, supaya begitu mereka masuk sekolah, mereka tidak kaget dengan berbagai kebijakan yang sedang berjalan maupun yang akan datang. Semoga apa yang saya sampaikan sore itu bisa jadi bekal, bukan sekadar materi yang lewat begitu saja, tapi benar-benar mereka bawa saat menghadapi kelas sungguhan nanti.
Sesi ditutup, badan lumayan lelah tapi puas rasanya bisa berbagi hal yang saya yakini penting untuk generasi guru berikutnya.